//
you're reading...
Kesehatan umum

Toilet Training pada Anak

KATA PENGANTAR

Makalah ini dibuat untuk memahami konsep dasar dan perspektif keperawatan anak. Sekalipun penulis telah mencurahkan segenap pemikiran, tenaga, dan waktu agar tulisan ini menjadi lebih baik, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu penulis dengan senang hati menerima saran dan kritikan yang bersifat membangun demi untuk kesempurnaan makalah ini.

Pada kesempatan ini, penulis juga ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Akhirnya pada-Nya jualah kita berserah diri semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi penulis.

Toilet Training pada Anak

A. Pengertian Toilet Training

Toilet Training pada anak adalah latihan menanamkan kebiasaan pada anak untuk aktivitas  buang air kecil dan buang air besar pada tempatnya (toilet).

B. Keuntungan dilakukan Toilet Training

Kemandirian

Toilet Training juga dapat menjadi awal terbentuknya kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air besar

Mengetahui bagian-bagian tubuh dan fungsinya

Toilet Training bermanfaat pada anak sebab anak dapat mengetahui bagian-bagian tubuh serta fungsinya ( anatomi ) tubuhnya. Dalam proses toilet training terjadi pergantian implus atau rangsangan dan instink anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar.

C. Factor-faktor yang mendukung Toilet Training pada anak

  1. Kesiapan Fisik
    1. Usia telah mencapai 18-24 bulan
    2. Dapat jongkok kurang dari 2 jam
    3. Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan
    4. Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan pakaian
    5. Kesiapan Mental
      1. Mengenal rasa ingin berkemih dan devekasi
      2. Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih
      3. Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku orang lain
    6. Kesiapan Psikologis
      1. Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu
      2. Mempunyai rasa ingin tahu dan penasarsan terhadap kebiasaan orang dewasa dalam BAK dan BAB
      3. Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat dicelana dan ingin segera diganti
    7. Kesiapan Anak
      1. Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan devekasi
      2. Ada keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan devekasi pada anaknya
      3. Tidak mengalami koflik tertentu atau stress keluarga yang berarti (Perceraian)

D. Usia yang tepat dilakukan Toilet Training

Toilet Training dapat berlangsung pada usia 1-3 tahun atau usia balita, sebab kemampuan spingter ani unytuk mengontrol rasa ingin devekasi telah berfungsi. Namun setiao anak kemampuanya berbeda tergantung factor fisisk dan psikologisnya

E. Cara-cara melakukan Toilet Training

      Teknik lisan

Usaha untuk melatih anak dengan cara memberikan intruksi pada anak dengan kata-kata sebelum dan sesudah buang air kecil dan buang air besar. Cara ini bener dilakukan oleh orang tua dan mempunyai nilai yang cukup besar dalam memberikan rangsangan untuk buang air kecil dan buang air besar. Dimana kesiapan psikologis anak akan semakin matnag sehingga anak mampu melakukan buang air kecil dan buang air besar

Teknik modeling

Usaha untuk melatih anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar dengan cara memberikan contoh dan anak menirukannya. Cara ini juga dapat dilakukan dengan membiasakan anak uang bair kecil dan buang air besar dengan cara mengajaknya ke toilet dan memberikan pispot dalam keadaan yang aman. Namun dalam memberikan contoh orang tua harus melakukannya secara benar dan mengobservasi waktu memberikan contoh toilet training dan memberikan pujian saat anak berhasil dan tidak memarahi saat anak gagal dalam melakukan toilet training.

F. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama Toilet Training

  1. Hindari pemakain popok sekali pakai
  2. Ajari anak mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan buang air kecil dan buang air besar
  3. Motivasi anak untuk melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci tangan dan kaki sebelum tidur dan cuci muka disaat bangun tidur
  4. Jangan marah bila anak dalam melakukan toilet training

G. Tanda anak siap untuk melakukan Toilet Training

  1. Tidak mengompol dalam waktu beberapa jam sehari minimal 3-4 jam
  2. Anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol
  3. Anak mengetahui saat merasa ingin BAK dan BAB dengan menggunakan kata-kata pup
  4. Sudah mampu member tahu bila celana atau popok sekali pakainya sugah basah dan kotor
  5. Bila ingin BAK dan BAB anak memberi tahu dengan cara memegang alat kelamin atau minta ke kamar mandi
  6. Bias memakai dan melepas celana sendiri
  7. Memperlihatkan ekspresi fisik misalnya wajah meringis, merah atau jongkok saat merasa BAB dan BAK
  8. Tertarik dengan kebiasaan masuk ke kamar mandi seperti kebiasaan orang sekitarnya
  9. Minta diajari menggunakan toilet
  1. Mampu jongkok 5-10 menit tanpa berdiri dulu

Pedoman Toilet Training Pada Anak

      Pedoman Untuk Orang Tua

Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan untuk ketrampilan sosial, Mengajarkan toilet training (TT) membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran. Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa anda tidak dapat memaksakan anak untuk menggunakan toilet. The American Academy of Pediatrics telah mengembangkan brosur ini untuk membantu anak anda melewati tahap penting perkembangan sosial.

Pengenalan Konsep ToiletTraining

Toilet training merupakan carauntuk melatih anak agar bisamengontrol hajatnya apakah itusaat ia ingin buang air kecil

BAK atau buang air besar BAB,Selain itu anak diharapkanmampu BAK dan BAB di tempat yangtelah ditentukan

Strategi pengenalan T T

UNTUK BAK

Kenalkan dulu istilah istilah BAK pis pipis dll

BAB pup eek dll terutama saat si kecil selesai melakukan aktitivas tersebut

Kenalkan suasana kamar mandi Biarkan si kecil bereksplorasi dengan isi kamar mandi

Untuk BAK kenali tanda tanda saat si kecil akan BAK

ini bisa dimulai dengan cara Anda membawanya ke toilet setiap 2 3 jam sekali Atau lebih mudahnya setengah jam hingga satu jam setelah minum

Pujilah bila ia berhasil meskipun kemajuannya tidak secepat yang Anda inginkan

UNTUK BAB

Pastikan si kecil sudah bisa duduk dengan baik tapi tetap Anda pegang selama proses BAB

Peluk si kecil saat berlangsungnya BAB tapi

jangan terlalu erat hanya untuk memastikan bahwa dia aman dan otomatis pelukan ini bisa memberikan kenyamanan ketenangan buat si kecil

Ajak si kecil menyanyi Ya benar cara ini efekfif untuk mengurangi ketegangan si kecil saat melakukan proses BAB Atau bisa juga diajak cerita tentang hal hal yang dia sukai Mainkan ekspresi Anda ikuti ekspresi muka si kecil saat ngeden Ini akan mempermudah Anda nantinya untuk meminta si kecil ngeden pada proses  BABnya

Sekali waktu memang si kecil bosan dan tidak sabaran Tidak masalah turuti saja keinginannya & Jangan paksakan ia duduk melakukan proses BAB karena justru prosesnya dijamin gagal Lama kelamaan si kecil akan paham bahwa proses ngeden lebih enak & nyaman dilakukan di atas toilet daripada berdiri

Proses akan disertai dengan ‘nyebokin’ Karena biasanya akan berebut selang gayung Sabar bu kuncinya pelan pelan Anda basuh pantat si kecil

sambil liat ke matanya dan bilang bahwa itu kotoran yang harus di buang

Mengajarkan TT sebaiknya santai dan hindari kemarahan. Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengontrol kapan dan dimana anak ingin BAK atau BAB kecuali anak itu sendiri. Hindari pemaksaan yang berlebihan. Anak pada usia TT mulai timbul kesadaran terhadap diri sendiri. Mereka mencari cara untuk menguji keterbatasan mereka. Beberapa anak melakukannya dengan cara nenahan keinginan BAB-nya.

Perhatikan tanda-tanda berikut ini untuk menilai kesiapan anda:

  • Anak anda tidak mengompol minimal 2 jam saat siang hari atau setelah tidur siang.
  • BAB menjadi teratur dan dapat diprediksi
  • Ekspresi wajah, postur menjadi tubuh dan kata-kata yang menunjukkan keinginan BAB atau BAK.

Keadaan stress di rumah bisa membuat proses ini menjadi sulit. Kadang-kadang sangat bijaksana untuk menunda TT dalam situasi berikut ini:

  • Keluarga anda baru pindah atau berencana akan pindah dalam waktu dekat.
  • Anda sedang menantikan kelahiran bayi atau baru mendapatkan seorang bayi.
  • Ada penyakit berat, kematian atau seseorang dalam keluarga sedang mengalami krisis.

Bagaimanapun juga bila anak anda tidak mengalami hambatan dalam TT, maka tidak ada alasan untuk menghentikannya karena situasi-situasi tersebut.

  • Anak anda dapat mengikuti perintah-perintah sederhana
  • Anak anda dapat berjalan dari dan ke kamar mandi, serta membantu melepas pakaian.
  • Anak anda tampak tidak nyaman dengan popok yang koor dan ingin diganti.
  • Anak anda meminta menggunakan toilet atau pot.
  • Anak anda meminta menggunakan pakaian dalam seperti anak yang lebih besar.

Bagaimana mengajar anak anda menggunakan toilet ?

Anda seharusnya memutuskan dengan hati-hati kata-kata apa yang akan digunakan untuk menggambarkan bagian-bagian tubuh, urine, dan BAB. Ingatlah bahwa kata-kata tersebut akan didengar juga oleh teman, tetangga, guru, dan orang-orang lain. Sebaiknya gunakan kata-kata yang sudah umum digunakan supaya tidak membingungkan atau mempermalukan anak anda.

Hindari penggunaan kata-kata “kotor”, “nakal” atau jorok untuk menggambarkan urine atau feses. Istilah negatif ini akan membuat anak anda merasa malu dan bingung. Ajarkan BAB dan BAK dengan cara sederhana. Anak anda mungkin ingin tahu dan mencoba untuk bermain dengan fesesnya. Anda dapat mencegah hal ini tanpa membuat anak anda sedih, katakan bahwa feses bukan sesuatu untuk dimainkan.

Ketika anak anda sudah siap, anda sebaiknya memilih pot (potty chair) untuk BAK atau BAB. Pot lebih mudah digunakan untuk anak kecil, karena pendek sehingga anak tidak sulit untuk duduk diatasnya dan kaki anak dapat mencapai lantai.

Anak-anak sering tertarik dengan aktifitas dalam kamar mandi keluarga. Kadang-kadang biarkan mereka memperhatikan orang tuanya saat pergi ke kamar mandi. Dengan melihat orang dewasa menggunakan toilet akan membuat mereka mempunyai keinginan yang sama. Jika memungkinkan ibu sebaiknya memperlihatkan cara yang benar kepada anak perempuannya, sedangkan ayah kepada anak laki-lakinya. Anak-anak dapat juga mempelajari cara ini dari kakak atau teman-temannya.

Ajarkan anak anda untuk memberitahukan bila dia ingin BAB atau BAK, Anak anda sering memberitahu anda pada saat dia sudah mengompol atau BAB. Hal ini merupakan tanda bahwa anak anda mulai mengenal fungsi tubuhnya. Ajarkan anak anda lain kali harus memberi tahu anda sebelumnya.

Sebelum BAB anak anda mungkin merintih, atau mengeluarkan suara-suara aneh, jongkok, atau berhenti beberapa saat. saat mengedan wajahnya akan menjadi merah. Jelaskan pada anak tanda-tanda tersebut adalah petunjuk saatnya menggunakan toilet.

Kadang-kadang lebih lama mengenal keinginan untuk BAK daripada keinginan untuk BAB. Beberapa anak belum dapat mengontrol keinginan BAK selama beberapa bulan setelah mereka dapat mengontrol BAB. Beberapa anak mampu mengontrol BAK terlebih dahulu. Sebagian besar anak laki-laki belajar BAK dengan cara duduk terlebih dahulu, kemudian baru dengan cara berdiri. Ingatlah bahwa semua anak berbeda.

Ketika anak anda tampak ingin BAK atau BAB, pergilah ke pot. Biarkan anak anda duduk di pot beberapa menit, Jelaskan bahwa anda ingin anak anda BAB atau BAK di situ. Bergembiralah, jangan memperlihatkan ketegangan. Jika anak anda protes dengan keras, jangan memaksa. Mungkin anak anda belum saatnya untuk memulai TT.

Sebaiknya anak dilatih menggunakan pot secara rutin, misalnya menjadi kegiatan pertama di pagi hari ketika anak anda bangun, setelah makan, atau sebelum tidur siang. Ingatlah bahwa anda tidak dapat mengontrol kapan anak anda BAB atau BAK.

Keberhasilan TT tergantung pada cara pengajaran bertahap yang sesuai dengan anak anda. Anda harus mendukung usaha anak anda. Jangan menginginkan hasil yang terlalu cepat. Berikan anak anda pelukan dan pujian jika mereka berhasil. Bila terjadi kesalahan jangan mamarahi atau membuat mereka sedih. Hukuman akan membuat mereka merasa bersalah dan membuat TT menjadi lebih lama.

Ajarkan anak anda kebiasaan menjaga kebersihan. Tunjukkan cara cebok yang benar. Anak perempuan seharusnya membersihkan dari depan ke belakang untuk mencegah penyebaran kuman dari rektum ke vagina atau kandung kemih. Pastikan anak laki-laki maupun perempuan mencuci tangan mereka setelah BAB atau BAK.

Beberapa anak percaya bahwa urine atau feses adalah bagian dari tubuh mereka, melihat fesesnya disiram mungkin menakutkan dan sulit untuk dimengerti. Beberapa anak takut mereka akan tersedot ke dalam toilet bila disiram saat mereka masih duduk di atasnya. Orang tua harus mengajarkan mereka keinginan untuk mengontrol, biarkan mereka mencoba menyiram tissue ke dalam toilet. Hal tersebut akan menghilangkan ketakutan mereka terhadap suara berisik air dan mereka dapat melihat benda yang menghilang, masuk ke dalam toilet.

Ketika anak anda mulai sering berhasil, tingkatkan dengan penggunaan celan latihan (training pants). Kejadian tersebut menjadi sangat istimewa. Anak anda akan merasa bangga telah mendapat kepercayaan dan merasa tumbuh. Bagaimana pun juga bersiaplah terhadap terjadinya “kecelakaan”. Akan membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelum TT selesai. Sebaiknya tetap melanjutkan latihan duduk di pot di siang hari. Jika anak anda dapat menggunakan pot dengan sukses, ini merupakan kesempatan untuk memuji. Bila tidak ini masih merupakan latihan yang baik.

Pada awalnya, banyak anak akan BAB atau BAK segera setelah diangkat dari toilet. Perlu waktu untuk anak anda belajar relaksasi otot-ototnya untuk mengontrol BAB atau BAK. Bila sering terjadi “kecelakaan” seperti ini, berarti anak anda belum siap untuk TT.

Kadang-kadang anak anda akan meminta popok saat merasa akan BAB dan berdiri di satu tempat tertentu untuk defekasi. Ajak anak anda mengenali tanda-tanda keinginan BAB. Anjurkan kemampuannya dengan duduk di atas pot tanpa popok.

Pola defekasi bervariasi. Beberapa anak 2-3 kali per hari. Anak lain 2-3 hari sekali. Feses yang lunak membuat TT lebih mudah untuk anak dan orang tua. Terlalu memaksa anak dalam TT dapat menimbulkan masalah BAB jangka panjang.

Bicarakan dengan dokter anak anda bila terjadi perubahan kebiasaan BAB atau bila anak anda menjadi tidak nyaman. Jangan gunakan laksatif, supositoria, atau enema, kecuali dianjurkan oleh dokter.

Sebagian besar anak dapat mengontrol BAB dan BAK di siang hari saat usia 3-4 tahun. Bahkan setelah anak anda tidak mengompol di siang hari masih perlu waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk tidak mengompol di malam hari. Sebagian besar anak perempuan dan lebih dari 75% anak laki-laki mampu tidak mengompol di malam hari setelah usia 5 tahun.

Anak anda akan menunjukkan kepada anada jika dia sudah siap pindah dari pot ke toilet sesungguhnya. Pastikan anak anda cukup tinggi, dan latihlah tahap demi tahap bersama mereka.

Dokter anak anda dapat membantu.

Bila timbul masalah sebelum, saat, atau setelah TT, bicarakanlah dengan dokter anak anda. Kadang-kadang masalahnya tidak terlalu berat dan dapat diatasi segera, tetapi kadang-kadang timbul masalah fisik dan emosional yang memerlukan terapi. Bantuan, nasihat, dan dukungan dokter anak dapat membuat TT lebih mudah. Dokter anak anda juga dilatih untuk mengidentifikasi dan menangani masalah-masalah yang lebih serius.

Sumber: Bunda edisi 256

  ^ a b Hall, Justin. “Japan: Toilets”. http://www.links.net/vita/trip/japan/toilets/. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ a b c d e f g “Japanese toilets”. Japan-Guide.com. http://www.japan-guide.com/e/e2003.html. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ a b c d e f g “High-Tech Toilets” (Scholar search). Web Japan. Diarsipkan dari yang asli pada 1 Januari 2007. http://web.archive.org/web/20070101044850/http://web-japan.org/kidsweb/techno/toilet/index.html. Diakses pada 24 Juli 2009.

  ^ a b c d e f g h Brooke, James, “Japanese Masters Get Closer to the Toilet Nirvana“, The New York Times, 8 Oktober 2002. Diakses pada 5 November 2006.

  ^ a b c d e f Reuters, Tokyo. “US, Europe unready for super-toilets, but Japan is patient“, Taipei Times, 28 September 2003. Diakses pada 8 November 2006.

  ^ Taniguchi, Goro (1997). Kamus Standar Bahasa Jepang-Indonesia. Dian Rakyat. ISBN 979-523-188-X.

  ^ a b c d e f Matsui, Akira (2003). “Palaeoparasitology in Japan – Discovery of toilet features” (pdf). Memórias do Instituto Oswaldo Cruz (Rio de Janeiro: Memórias do Instituto Oswaldo Cruz) 98 (1): 127–136. doi:10.1590/S0074-02762003000900019. ISSN 0074-0276. http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_pdf&pid=S0074-02762003000900019&lng=es&nrm=iso&tlng=en. Diakses pada 5 November 2006.

  ^ a b c “Sewer History: Photos and Graphics: Japan”. http://www.sewerhistory.org/grfx/wh_region/japan1.htm. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ “Making Great Breakthroughs: All about the Sewage Works in Japan”. Japan Sewage Works Association. Kesalahan: waktu tidak valid. pp. 47. http://www.sewerhistory.org/articles/whregion/japan_waj01/index.htm. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ a b “Invitation: The Heijo Palace Site Museum” (PDF). pp. 16. http://www.nabunken.go.jp/site/shiryou_e.pdf. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ a b c d Magnier, Mark. “Japan Is Flush With Obsession”. Los Angeles Times. http://www2.gol.com/users/coynerhm/japan_is_flush_with_obsession.htm. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ “What is “washi” and why is it used in Japanese toilet paper?”. Toilet Paper World. http://www.toiletpaperworld.com/tpw/encyclopedia/navigation/worldwide.htm. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ Pietzcker, Eva (2004). “Japanese Papermaking – Kami-suki”. Druckstelle Berlin. http://www.druckstelle.info/en/papier.htm. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ “The History of Toilets in Japan”. Web Japan. http://web-japan.org/kidsweb/techno/toilet/history.html. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ Masao Ukita and Hiroshi Nakanishi (1999). “Pollutant Load Analysis for the Environmental Management of Enclosed Sea in Japan” (PDF). pp. 122. http://www.emecs.or.jp/joint4/joint-pdf/pdf/p121.pdf. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ a b Junko Edahiro, Hiroyuki Tada (March 31, 2003). “[http://www.japanfs.org/en/newsletter/200303.html Japans sustainable society in the Edo period (1603–1867)]“. Japan for Sustainability Newsletter #007. Japan for Sustainability. Diakses pada 7 November 2006.

  ^ Keiichi Kato (December 2000). “Study on Okinawa’s Development Experience in Public Health and Medical Sector” (pdf). Institute for International Cooperation, Japan International Cooperation Agency. Diakses pada 7 November 2006.

  ^ “Tracking Down the Roots Chronology: Japan”. http://www.sewerhistory.org/chronos/japan.htm. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ “Numazu’s Newsletter” (PDF). 15 Agustus 2006. pp. 9. http://www.city.numazu.shizuoka.jp/living_in/english/pdf/e060815-1.pdf. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ a b c d Mary Jordan; Kevin Sullivan. “But Do They Flush? Japan’s High-Tech Toilets Do Nearly Everything, Even Redden Faces“, The Washington Post, 15 Mei 1997. Diakses pada 7 November 2006.

  ^ Ichikawa, Takashi (1998). Sanseidō New Modern Dictionary (三省堂現代新国語辞典, sanseidōgendaishinkokugojiten?). Tokyo, Japan: Sanseido Co., Ltd.. ISBN 4-385-14034-0.

  ^ a b “The Japanese Toilet”. The Japanese Page. 1 Mei 2001. http://www.thejapanesepage.com/culture/toilets.htm. Diakses pada 7 November 2006.

  ^ “List about toilet”. http://www.neverland.to/kanji/list/toilet.html. Diakses pada 7 November 2006.

  ^ “Japan Toilet association” (dalam bahasa bahasa Jepang). http://www.toilet.or.jp/. Diakses pada 7 November 2006.

  ^ a b Lim Tai Wei. “A Study of Japanese Toilets”. http://www.worldtoilet.org/articles/articles_per_japanesetoilets.htm. Diakses pada 30 Oktober 2006.

  ^ “Living in Japan – Toilet”. Japanguide.com. http://www.japan-guide.com/e/e2003.html. Diakses pada 8 November 2006.

  ^Myth: Toilet Seats Are the Dirtiest Thing in the Bathroom“, ABC News original report, ABC News, 14 Oktober 2005. Diakses pada 13 November 2006.

  ^Lifting the lid on computer filth“, BBC News, 12 Maret 2004. Diakses pada 13 November 2006.

  ^ “Health Benefits of the Natural Squatting Position”. Nature’s Platform. http://www.naturesplatform.com/health_benefits.html. Diakses pada 5 November 2006.

  ^ Lim Tai Wei. “A Study of Japanese Toilets“. World Toilet Organization. Diakses pada 7 November 2006.

  ^ Jacobs EJ, White E (July 1998). “Constipation, laxative use, and colon cancer among middle-aged adults”. Epidemiology 9 (4): 385–91. doi:10.1097/00001648-199807000-00007. PMID 9647901. http://meta.wkhealth.com/pt/pt-core/template-journal/lwwgateway/media/landingpage.htm?issn=1044-3983&volume=9&issue=4&spage=385.

  ^ Christine Dimmer, Brian Martin, Noeline Reeves and Frances Sullivan (Oktober 1996). “Squatting for the Prevention of Hemorrhoids?” (http). Townsend Letter for Doctors & Patients (159): 66–70. ISSN 1059-5864. http://www.uow.edu.au/arts/sts/bmartin/pubs/96tldp.html. Diakses pada 5 November 2006.

  ^ a b c Alan Bellows. “Modern Movements in Toilet Technology“, Damn Interesting, 2 Januari 2006. Diakses pada 8 November 2006.

  ^ a b Fitzpatrick, M.. “Japanese offer the world hi-tech toilet training.”, Daily Telegraph, 14 Mei 1998, pp. 8–9.

  ^ a b c Sapa. “Sound Princess eliminates toilet noises“, IOL, 4 Oktober 2004. Diakses pada 5 November 2006.

  ^ M. Ojima (March 1, 2002). “Bacterial contamination of Japanese households and related concern about sanitation”. International Journal of Environmental Health Research 12 (1): 41–52. doi:10.1080/09603120120110040. http://taylorandfrancis.metapress.com/link.asp?id=pqp8bahwbqyywkuf.

  ^Japanese customs for foreigners – part 1: toilet slippers“, Genki Japanese and Culture School. Diakses pada 13 November 2006.

  ^ Doug Jardine (September 5 2006). “What’s with toilet slippers?”. http://www.aacircle.com.au/forums/f31/toilet-slippers-japan-6064/. Diakses pada 13 November 2006.

  ^ Anne R. LaVin. “Origami Tanteidan Convention – The Gaijin Guide: Weather & Clothing”. http://web.mit.edu/lavin/www/origami/tanteidan-guide/weather-clothing.shtml. Diakses pada 13 November 2006.

  ^ Laursen, Daniel (1999-04-14). “I never expected… that public urination was something people would do”. http://www.daninjapan.com/learn/nexpect.html. Diakses pada 24 April 2007.

  ^ K. Yamagishi. “Ⅰ Different in Many Ways: Encroaching on Privacy?”. http://jiten.cside3.jp/for_myself/for_myself_top.htm. Diakses pada 24 April 2007.

  ^ Yamanouchi, Daisuke (2001). “Reducing Environmental Problems Caused by Domestic Water Consumption“. {{{booktitle}}}: 65, 2nd International Symposium on Environmentally Conscious Design and Inverse Manufacturing (EcoDesign’01).

  ^ (August 2004). “How Life Cycle Assessment (LCA) can enhance the Fight against Global Warming (Research Report No. 45)” (PDF). Development Bank of Japan, Economic and Industrial Research Department. Diakses pada 5 November 2006.

  ^ “トイレ用品”. 価格.com. http://kakaku.com/interior/ss_0017_0041/0001/0002/. Diakses pada 14 Juli 2009.

  ^ George, Rose (29 Agustus 2008). “Japan’s hi-tech toilets”. The Daily Telegraph. http://www.telegraph.co.uk/connected/main.jhtml?xml=/connected/2008/08/31/sv_hitechtoilets.xml&page=2.

About geovanisimatupang123

telusuri saja orang ya

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: