//
you're reading...
Askep

Askep Mola Hidatidosa


 

A. DEFINISI  

Suatu Kehamilan yang ditandai dengan adanya villi korialis yang tidak normal secara histologis yang terdiri dari beberapa macam tingkatan proliferasi trofoblastik dan edema pada stroma villus. Biasanya kehamilan mola terjadi di dalam uterus, tetapi kadang2 terdapat juga di saluran telur ataupun ovarium.

Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan.
(Mochtar, Rustam, dkk, 1998 : 238)

Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339)
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik.

  • Kehamilan yang berkembang tidak wajar
  • Tidak ditemukan janin
  • Hampir seluruh villi korialis mengalami perubahan hidropik
  • Bila disertai janin atau bagian janin disebut Mola parsial
  • Pembuahan sel telur yang kehilangan intinya atau inti tidak aktif lagi

 

B. FAKTOR RESIKO

  • Defek pada ovarium
  • abnormalitas pada uterus
  • defisiensi nutrisi antara lain defisiensi protein, asam folat, karoten
  • umur dibawah 20 tahun atau
  • usia diatas 40 tahun : memiliki peningkatan resiko 7x dibanding perempuan yang lebih muda

 

C. GEJALA

  • Derajat keluhan mual muntah lebih hebat
  • Uterus lebih besar dari usia kehamilan
  • Perdarahan mrpk gejala utama
  • Terjadi pada bulan 1-7, rata2 usia kehamilan 12-14 minggu
  • Perdarahan bisa sampai syok dan meninggal

 

D.  KLASIFIKASI

Pembagian mola berdasarkan dengan adanya janin atau tidak

Mola hidatidosa komplit

Villi korion berubah menjadi massa vesikel dengan ukuran bervariasi dari sulit terlihat sehingga diameter beberapa centimeter. Histologinya memiliki karekteristik, yaitu

  • Terdapat degenerasi hidrofik & pembengkakan stroma villi
  • Tidak ada pembuluh pada villi yang membengkak
  • Proliferasi dari epitel trofoblas dengan bermacam2 ukuran
  • Tidak adanya janin atau amnio

Mola Hidatidosa parsial

Masih tampak gelembungt yang disertai janin atau bagian dari janin. Umumnya janin masih hidup dalam bulan pertama. Tetapi ada juga yang hidup sampai aterm. Pada pemeriksaan histopatologik tampak di beberapa tempat villi yang edema dengan sel trofoblas yang tidak begitu berproliferasi, sedangkan tempat lain masih banyak yang normal.

 

E. PATOGENESIS

Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast :

  • Teori missed abortion

Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.

  • Teori neoplasma dari Park

Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung.

  • Studi dari Hertig

Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan. (Silvia, Wilson, 2000 : 467)

Karakteristik mola adalah adanya konseptus jaringan trofoblastik hiperplastik yang tertanam pada plasenta. Hasil konsepsi ini tidak memiliki inner cell mass.

Jika terjadi gangguan pada saat embryonic inner cell mass yang seharusnya berpotensi untuk berdiferensiasi menjadi lapisan ekto, meso dan endoderm, maka perubahan tersebut gagal dan terjadilah pembentukan trofoblas yang akan berkembang menjadi sitotorofoblas dan sisitiotrofoblas, danmasih mampu untuk membentuk ekstraembrionik mesoderm yang akhirnya akan membentuk vesikel dari mola dengan mesoderm yang longgar pada inti villinya.

 

F.  DIAGNOSIS

  • Amenore/tidak haid
  • Perdarahan pervaginam
  • Uterus lebih besar dari usia kehamilan
  • Tidak ditemukan tanda kehamilan pasti seperti balotemen dan bunyi jantung janin
  • β-hCG dalam darah atau urin
  • Foto abdomen, biopsi transplasental, sonde uterus diputar, USG

 

G.MORTALITAS & MORBIDITAS  (ANGKA KEMATIAN & KESAKITAN)

Pada Mola 20% berkembang menjadi keganasan trofoblastik. Setelah terbentuk mola komplit, invasi ke uterus terjadi pada 15% pasien & metastasis terjadi pada 4% pasien. Kasus koriokarsinoma yang berkembang dari mola partial belum pernah dilaporkan, walaupun 4% pasien dengan mola parsial akan berkembang menjadi penyakit trofoblastik non metastasis persisten yang membutuhkan kemoterapi.

Makroskopik
Gelembung-2 putih, tembus pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi dari beberapa milimeter sampai satu atau 2 cm

 

H.             KOMPLIKASI

Bisa disertai preeklampsia pada usia kehamilan yang lebih muda

Tirotoksikosis, prognosis lebih buruk, biasanya meninggal akibat krisis tiroid

Emboli sel trofoblas ke paru

Sering disertai kista lutein, baik unilateral maupun bilateral, kista menghilang jika mola sudah dievakuasi

Mola dengan kista lutein mempunyai resiko 4x lebih besar berdegenerasi

 

I.     TERAPI

Perbaikan keadaan umum

Pengeluaran jaringan mola (Evakuasi)

Profilaksis dengan sitostatika

Pemeriksaan tindak lanjut (Follow up)

Perbaikan keadaan umum

Transfusi darah jika anemia atau syok
Menghilangkan penyulit seperti preeklampsia dan tirotoksikosa

Evakuasi Mola

Kuret hisap (Vakum) : Sambil diberikan uterotonika untuk memperbaiki kontraksi, sedia darah
Histerektomi : cukup umur atau cukup anak, bila ditemukan tanda2 keganasan berupa mola invasif

Profilaksis dengan sitostatika
Kasus mola dengan resiko tinggi akan terjadinya keganasan, atau pada pemeriksaan Patologi Anatomi ditemukan mencurigakan tanda keganasan
Methotrexate atau actinomycin D
Dapat menghindarkan keganasan dengan metastasis, mengurangi koriokarsinoma diuterus sebanyak 3x

Follow up

Dianjurkan untuk tidak hamil 1 tahun
Kondom atau pil KB
Pemeriksaan β-hCG berkala dan radiologi

Prognosis

Kematian akibat perdarahan, infeksi, eklampsia, penyakit jantung atau krisis tiroid
di negara berkembang 2,2 % dan 5,7%
Proses keganasan berlangsung antara 7 hari sampai 3 tahun pasca mola, yang paling banyak 6 bulan pertama
Bisa melahirkan normal setelah th/mola

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KELAINAN KEHAMILAN MOLA HIDATIDOSA

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Proses keperawatan adalah metode kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah pasien secara sistematis, menentukan cara pemecahannya, melakukan tindakan dan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan.
Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencanakan danmelaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis.

 

1.    PENGKAJIAN
        Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan             menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :

Biodata
Mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi : nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke-, lamanya perkawinan dan alamat

Riwayat keperawatan

Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang

Riwayat kesehatan, yang terdiri atas :

a.       Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.

b.      Riwayat kesehatan masa lalu

Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.

Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanyaØ penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah   ginekologi/urinary, penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.

Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.

Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya

Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.

Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.

Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-        obatan kontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.

Pemeriksaan fisik, meliputi :

a.       Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain :        mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya

b.      Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal

c.       Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak

d.      Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.
(Johnson & Taylor, 2005 : 39)

Pemeriksaan laboratorium :
Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.
Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB,ü apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa.

Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.

Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana polaü komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan.

Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien

Data spiritual : Kaji tentang keyakina klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.

 

2.    DIAGNOSA KEPERAWATAN

Secara singkat diagnosa keperawatan dapat diartikan : Sebagai rumusan atau keputusan atau keputusan yang diambil sebagai hasil dari pengkajian keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang digambarkan sebagai respon seseorang atau kelompok (keadan kesehatan yang merupakan keadaan aktual maupun potensial) dimana perawat secara legal mengidentifikasi, menetapkan intervensi untuk mempertahankan keadaan kesehatan atau menurunkan. (Carpenito, Lynda, 2001: 45)
Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah :

1.      Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

2.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

3.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

4.      Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

5.      Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan

6.      Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah

7.      Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase

8.      Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan

 

3.    INTERVENSI      

Merupakan tahapan perencanaan dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa yang akan dilakukan untuk membantu klien, memulihkan, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan

Tujuan :

a.       Sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain

b.      Meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan

Langkah-langkah penyusunan :

a.       Menetapkan prioritas masalah

b.      Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai

c.       Menentukan rencana tindakan keperawatan

DIAGNOSA I

1.      Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang
Kriteria Hasil :

Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang
Ekspresi wajah tenang
TTV dalam batas normal

Intervensi :

Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien
Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat

Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam
Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien

Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi
Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan

Beri posisi yang nyaman
Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri

Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan

 

DIAGNOSA II

2.      Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan
Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri
Kriteria Hasil :
Kebutuhan personal hygiene terpenuhiü
Klien nampak rapi dan bersih
Intervensi :

Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya

Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat

Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya
Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya

Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien

Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri

 

DIAGNOSA III  

3.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri
Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu
Kriteria Hasil :
Klien dapat tidur 7-8 jam per hari
Konjungtiva tidak anemis

Intervensi :

Kaji pola tidur
Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien, akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya

Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang
Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat

Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur
Rasional : Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur

Batasi jumlah penjaga klien
Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat

Memberlakukan jam besuk
Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat

Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam
Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur

 

DIAGNOSA IV  

4.      Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas
Kriteria Hasil :
Tanda-tanda vital dalam batas normal
Klien tidak  mengalami komplikasi
Intervensi :

Pantau suhu klien, perhatikan menggigil/diaphoresis
Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi, pola demam dapat membantu diagnose

Pantau suhu lingkungan
Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan, suhu harus mendekati normal

Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak
Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam

Berikan kompres hangat
Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh

Kolaborasi pemberian obat antipiretik
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada  hypothalamus

 

DIAGNOSA V   

5.      Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang
Kriteria Hasil :
Ekspresi wajah tenang
Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya
Intervensi :

Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien

Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan

Mendengarkan keluhan klien dengan empati
Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan

Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan
Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya

Beri dorongan spiritual/support
Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang

DIAGNOSA VI 

6.      Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah
Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil :
Nafsu makan meningkat
Porsi makan dihabiskan
Intervensi :

Kaji status nutrisi klien
Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya

Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering
Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia

Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi
Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien

Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi

Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan, anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien
Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan

 DIAGNOSA VII

7.      Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase
Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi
Kriteria Hasil :
Tidak tampak tanda-tandaü infeksi
Vital sign dalam batas normal
Intervensi :

Kaji adanya tanda-tanda infeksi
Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi

Observasi vital sign
Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh

Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka, garis jahitan), daerah yang terpasang alat invasif (infus, kateter)
Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya

Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotic
Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri, sehingga proses infeksi tidak terjadi. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeks.

DIAGNOSA VIII

8.      Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan
Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi
Kriteria Hasil :
Hb dalam batasü normal (12-14 g%)
Turgor kulit baik
Vital sign dalam batasü normal
Tidak ada mual muntah
Intervensi

Awasi tanda-tanda vital, kaji warna kulit/membran mukosa, dasar kuku
Rasional : Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan             membantu menentukan intervensi selanjutnya

Selidiki perubahan tingkat kesadaran, keluhan pusing dan sakit kepala
Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial

Kaji kulit terhadap dingin, pucat, berkeringat, pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah
Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin

Berikan cairan intravena, produk darah
Rasional : Menggantikan kehilangan daran, mempertahankan volume sirkulasi

Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet
Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan

 

4.    EVALUASI

Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk :

a.      Mengakhiri rencana tindakan keperawatan.

b.      Memodifikasi  rencana tindakan keperawatan.

c.       Meneruskan rencana tindakan keperawatan.

     Evaluasi terbagi menjadi dua, yaitu evaluasi proses (formatif) dan evaluasi hasil (sumatif).

Komponen evaluasi terdiri dari :

S  :  data subjektif

O  :  data obyektif

A  :  analisis

P  :  planning

 

EVALUASI PADA KLIEN DENGAN KELAINAN KEHAMILAN MOLA HIDATIDOSA

ü  Keluhan utama (menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang) : teratasi.

1.      Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

S : klien menyatakan “nyeri reda/terkontrol”

O : menunjukkan postur badan rileks, bebas bergerak

A : nyeri teratasi

P : RT dihentikan

 

2.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

S : klien melaporkan peningkatan toleransi aktifitas (aktifitas sehari-hari)

O : menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi, mis TTV normal

A : peningkatan toleransi aktifitas

P : RT dihentikan

3.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

S : melaporkan peningkatan rasa sehat dan dapat istirahat

O : tidur 6-8 jam setiap hari

A : kebutuhan tidur terpenuhi

P : RT dihentikan

4.      Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

S : klien merasa nyaman

O : TTV dalam kisaran normal, tidak ada tanda-tanda infeksi

A :  tidak ada gangguan rasa nyaman

P : RT dihentikan

5.      Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan

S : klien menyatakan kesadaran perasaan ansietas dan cara sehat  menerimanya

O : menunjukkan sikap rileks

A : ansietas teratasi

P : RT dihentikan

6.      Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah

S : klien merasa lebih baik tanpa adanya anoreksia

O : menunjukkan peningkatan BB sesuai tujuan

A : nutrisi terpenuhi

P : RT dihentikan

7.      Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase

S :  –

O : mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti adanya infeksi

A : tidak terjadi infeksi

P : RT dihentikan

8.      Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan

S :  –

O : perfusi adekuat, nadi perifer kuat, TTV normal, pasien sadar

A : tidak terjadi gangguan perfusi jaringan

P : RT dihentikan

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Carpenito, Lynda. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana asuhan keperawatan. EGC: Jakarta

Hamilton, C. Mary. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC: Jakarta

http://cakmoki86.wordpress.com/2007/02/16/hamil-anggur-apaan-sih/

http://cewexxxhot.blogspot.com/2009/09/askep-molahidatidosa.html

http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-gynecology/mola-hidatidosa-hamil-anggur/

http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/05/10/askep-mola-hidatidosa/http://www.askep-askeb.cz.cc/2010/01/askep-mola-hidatidosa.html

Johnson & Taylor. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. EGC: Jakarta

Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius: Jakarta

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri, Jilid I. EGC: Jakarta

Rohmah, Nikmatur, dkk. 2009.  Proses Keperawatan Teori dan Aplikasi. Ar-Ruzzmedia: Jogjakarta

Soekojo, Saleh. 1973. Patologi. UI Patologi Anatomik: Jakarta

 

About geovanisimatupang123

telusuri saja orang ya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: