//
you're reading...
Askep

Askep Pneumonia

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Gejala-gejala dari pneumonia yang digambarkan oleh Hippocrates (c.460 BC-380BC) : Peripneumonia dan pleuritis dapat diamati jika demam akut,dan jika sakit pada salah satu bagian atau keduanya jika bernapas,jika ada batuk dengan pengeluaran sputum berwarna kemerahan atau kelabu kehitaman atau juga encer,berbusa dan kemerah merahan atau memiliki karakter lain yang berbeda dari keadaan ketika pneumonia menjadi parah,kasus ini terlalu sulit ditolong,jika dia tidak menyingkirkan,jika ada sesak dan sedikit jumlah urine dan bau tajam,berkeringat sekitar leher dan kepala,berkeringat seperti itu keadaan buruk beralih ke mati lemas,rales dan memperoleh siksaan yang sangat dari penyakit tersebut. Bagaimanapun, Hippocrates sendiri mengarahkan pneumonia sebagai suatu penyakit “istilah kuno”. Dia juga melaporkan hasil pengaliran empyema melalui pembedahan.
Maimonides (1138-1204 AD) mengamati”dasar gejala-gejala terjadinya pneumonia dan tidak pernah ketinggalan meninjau, demam akut, pita perekat sakit pada samping (pleuritis), laju nafas pendak, denyut yang bergerigi dan batuk”.  Gambaran klinik ini sungguh mirip seperti ditemukan dalam buku-buku modern,dan itu memperluas pemikiran tentang pengetahuan kedokteran bertahun-tahun yang lalu ke dalam abad XIX.  Bakteri pertama kali ditemukan pada jalan nafas pada individu yang meninggal karena pneumonia oleh Edwin Klebs pada tahun 1875. Pertama kali teridentifikasi dua bakteri penyebab Streptoccocus pneumonia dan Klebsiella pneumonia yang menemukan Carl Friedlander  dan Albert frankel  pada tahun 1882 dan 1884, berturut-turut.  Friedlander pertama kali memperkenalkan pewarnaan gram pada pemeriksaan dasar laboratorium masih digunakan untuk mengidentifikasi dan membagi bakteri. Paper Cristian Gram’s menguraikan cara ini pada tahun 1884 untuk membantu membedakan antara dua bakteri yang berbeda dan menunjukan yang dapat menyebabkan pneumonia dapat lebih dari satu mikroorganisme.
Sir William Osler, dikenal sebagai ”bapak kedokteran modern” menyadari morbiditi dan mortalitas dari pneumonia,menggambarkan itu sebagai ”kapten dari manusia yang sudah mati”. Bagaimanapun,beberapa kunci perkembangan pada tahun 1900 mengembangkan hasil untuk pneumonia. Dengan perkembangan dari penicillin dan antibiotik yang lain,teknik pembedahan modern,dan perawatan intensif dalam abad ke 20, kematian dari pneumonia menurun dengan cepat pada negara berkembang. Vaksinasi pada bayi terhadap Haemophillus influenza type B mulai tahun 1988 dan penurunan yang dramatik pada kasus-kasus sesudahnya.  Vaksinasi terhadap Streptoccocus pneumonia pada orang dewasa mulai tahun 1977 dan pada anak-anak mulai tahun 2000, hasilnya menunjukan penurunan yang sama.
Pneumonia merupakan suatu penyakit yang terjadi pada semua tempat di dunia. Merupakan salah satu kasus terbesar penyebab kematian pada semua kelompok umur. Pada anak-anak, mayoritas penyebab kematian yang terjadi pada saat kelahiran dengan lebih dari 2 juta kematian dalam setahun meliputi seluruh dunia. Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan 1 dari 3 kelahiran bayi meninggal akibat pneumonia. Kematian akibat pneumonia umumnya berkurang pada umur paling hingga masa dewasa. Orang lanjut usia,kadang-kadangada resiko khusus terhadap pneumonia dan dihubungkan dengan kematian. Lagi pula kasus pneumonia terjadi selama musim dingin daripada waktu lain sepanjang tahun. Pneumonia biasanya sering terjadi pada laki-laki daripada wanita, dan seringkali pada orang kulit hitam daripada kaukasian. Individu dengan penyakit utama seperti penyakit alzheimer’s,f ibrosis kistik, emphysema, perokok tembakau, alkoholisme atau masalah dengan sistem imun menambah resiko terjadinya pneumonia. Individu-individu ini juga mungkin dapat terjadi pneumonia yang berulang. Orang yang masuk rumah sakit dengan sedikit alasan juga resiko tinggi terhadap pneumonia.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dimana pneumonia merupakan suatu penyakit yang terjadi pada semua tempat di dunia dan merupakan salah satu kasus terbesar penyebab kematian pada semua kelompok umur, maka kami merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.         Bagaimana konsep penyakit pneumonia tersebut? (khususnya pada anak).
2.         Bagamana memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan pneumonia ?
C.      Tujuan
Dari latar belakang dan rumusan masalah diatas, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami baik konsep penyakit pneumonia maupun konsep  keperawatan pada klien dengan pneumonia.
BAB II
KONSEP PENYAKIT
A.      Pengertian Pneumonia
Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang
umumnya disebabkan oleh agent infeksi. Pneumonia merupakan infeksi akut yang secara anatomi mengenai lobus paru. Pneumonia pada anak seringkali bersamaan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus dan disebut bronchopneumonia.  Tubuh mempunyai daya tahan yang berguna untuk melindungi dari bahaya infeksi melalui mekanisme daya tahan traktus respiratorius yang terdiri dari :
1.         Susunan anatomis dari rongga hidung.
2.         Jaringan limfoid di naso-oro-faring.
3.         Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan sekret yang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut.
4.         Refleks batuk.
5.         Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi.
6.         Drainase sistem limfatik dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional.
7.         Fagositas, aksi enzimatik dan respons imunohumoral terutama dari IgA.
B.       Klasifikasi Pneumonia
1.         Pneumonia berdasarkan penyebab :
a.         Pneumonia bakteri.
b.        Pneumonia virus.
c.         Pneumonia Jamur.
d.        Pneumonia aspirasi.
e.         Pneumonia hipostatik.
2.         Pneumonia berdasarkan anatomic :
a.         Pneumonia lobaris adalah radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus paru-paru.
b.        Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) adalah radang pada paru-paru yang mengenai satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate.
c.         Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) adalah  radang pada dinding alveoli (interstitium) dan peribronkhial dan jaringan interlobular.
C.      Etiologi Pneumonia
Umumnya adalah bakteri, yaitu Streptococcus pneumoniae dan Haemophillus influenza. Pada bayi dan anak kecil ditemukan Staphylococcus aureus sebagai penyebab pneumonia yang berat, serius dan progresif dengan mortalitas tinggi.
Klasifikasi pneumonia pada anak menurut etiologi
Jenis
Mikroorganisme
Bakteri
Pneumokokus, Streptokokus, Stafilokokus, Haemophilus influenza, Pseudomonas aeruginosa
Virus atau kemungkinan virus
Respiratory syncitial virus, Adenovirus, Sitomegalovirus, Virus influenza
Pneumonitis interstisialis dan bronkiolitis
Pneumocystis carinii pneumonia, Q fever, Mycoplasma pneumoniae pneumonia, Klamidia, dll.
Infeksi lain
Jamur
Aspergilus, Koksidioidomikosis, Histoplasma, dll
Aspirasi
Cairan amnion, makanan, cairan lambung, benda asing.
Sindrom loeffler
Pneumonia hipostatik
Pneumonia oleh obat/radiasi
Pneumonia hipersensitivitas
D.      Patofisiologi Pneumonia
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya.
Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.
Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.
Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.
E.       Manifestasi Klinis Pneumonia
Secara umum dapat dibagi menjadi :
1.         Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit kepala, iritabel, gelisah, malaise, nafsu makan kurang, keluhan gastrointestinal.
2.         Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi sputum, napas cuping hidung, sesak napas, air hunger, merintih, dan sianois. Anak yang lebih besar dengan pneumonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada.
3.         Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah kedalam saat bernapas bersama dengan peningkatan frekwensi napas.), perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, dan ronkhi.
4.         Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak ekskursi dada tertinggal di daerah efusi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, suara napas tubuler tepat diatas bata cairan, friction rub, nyeri dada karena iritasi pleura (nyeri berkurang bila efusi bertambah dan berubah menjadi nyeri tumpul), kaku kuduk/meningismus (iritasi meningen tanpa inflamasi) bila terdapat iritasi pleura lobus atas, nyeri abdomen (kadang terjadi bila iritasi mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan bawah). Pada neonatus dan bayi kecil tanda pnemoni tidak terlalu jelas. Efusi pleura pada bayi akan menimbulkan pekak perkusi.
5.         Tanda infeksi ekstra pulmonal.
Gejala khas :
a.         Sianosis pada mulut dan hidung.
b.         Sesak nafas, takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai pernafasan cuping hidung.
c.         Gelisah, cepat lelah.
F.       Insiden
Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak kurang dari 5 tahun. Diperkirakan sekitar 20% (1,9 juta) kematian pertahun dari anak-anak usia kurang dari 5 tahun ini disebabkan oleh pneumonia. Dan hampir 2/3-nya terjadi pada bayi, dan lebih dari 90% terjadi di negara-negara berkembang.
Zinc merupakan mineral yang mempunyai potensi untuk meningkatkan status imunologi, mencegah dan memperpendek waktu diare. Efek zinc sebagai imunomodulator ini diperkirakan memberikan manfaat untuk membantu mempercepat penyembuhan infeksi maupun mencegah kekambuhan, zinc membantu meningkatkan daya tahan tubuh melalui langkah-langkah yang diawali dengan mobilisasi dan skuestrasi dari zinc pada jaringan kaya zinc-metallomethionin, selanjutnya akan mempercepat upregulasi sintesis protein sebagai bahan untuk imun spesifik, serta aktivasi dari makrofag, limfosit, dan sel NK.
Anak-anak dengan status zinc yang baik secara umum mempunyai respon imunologis lebih baik jika dibandingkan dengan anak-anak dengan status zinc yang lebih jelek. Jika dari data saat ini penggunaan zinc merupakan salah satu acuan dalam penanganan diare, bagaimana halnya manfaat zinc untuk kasus pneumonia ? Manfaat zinc dalam mencegah terjadinya pneumonia diantaranya dibuktikan dalam studi yang dilakukan oleh Brooks WA.dkk., dan dipublikasikan dalam Jurnal The Lancet. Dalam studi yang melibatkan sebanyak 270 anak-anak dengan pneumonia ini, rentang usia antara 2 – 23 bulan, masing-masing diberikan preparat zinc 20 mg per hari atau mendapat plasebo, yang ditambahkan pada terapi antibiotik menunjukkan bahwa pada kelompok yang mendapat preparat zinc terjadi penurunan darajat keparahan dari pneumonia-nya serta terjadi penurunan gejala-gejala pneumonia yang lebih bermakna jika dibandingkan dengan kelompok anak yang mendapat plasebo.Sedangkan studi yang lain adalah studi yang melibatkan sebanyak 1665 anak dengan rentang usia 60 hari – 12 bulan, yang selanjutnya diacak untuk mendapatkan zinc sebanyak 70 mg/ minggu atau mendapat plasebo selama 12 bulan. Subyek dinilai setiap minggu dengan beberapa parameter yang diukur adalah meliputi: kejadian diare dan pneumonia, serta kejadian infeksi saluran nafas.Dalam studi tersebut terbukti suplementasi zinc mampu mencegah terjadinya diare (95% CI 0,94(0,88-0,99;p=0,03), mencegah pneumonia berat (95% CI 0,51(0,3-0,88);p=0,016), maupun mencegah kematian (95% CI 0,15(0,3-0,67);p=0,013).
Dari studi tersebut dapat disimpulkan bahwa: suplementasi zinc 20 mgper hari atau sebesar 70 mg per minggunya, mampu menurunkan kejadian pneumonia serta kematian pada anak-anak.
G.      Komplikasi
Bila tidak ditangani secara tepat  maka akan dapat menimbulkan :
1.         Otitis media akut (OMA), terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi.
2.         Efusi pleura
3.         Emfisema
4.         Meningitis
5.         Abses otak
6.         Endokarditis
7.         Osteomielitis
H.      Pemeriksaan Diagnostik
1.         Sinar X : mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga menyatakan abses).
2.         Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada.
3.         Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
4.         Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
5.         Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
6.         Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi.
7.         Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing.
I.         Terapi Penatalaksanaan
1.         Oksigen 1-2L/ menit
2.         IVFD dekstrose 10% :NaCL0,9% =3 :1,+KCL 10 mEq/500 ml cairan.jumlah cairan sesuai berat badan,kenaikan suhu,dan status hidrasi.
3.         Jika sesak tidak terlalu hebat,dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip.
4.         Jika sekresi lender berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transpor mukosilier.
5.         Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
6.         Antibiotic sesuai hasil biakan.
Untuk kasus pneumonia community base :
1.         Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian.
2.         Kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian.
Untuk kasus pneumonia hospital base :
1.         Sefoktaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian.
2.         Amikasin 10-15 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian.
Pemilihan antibiotika berdasarkan etiologi.
Mikoroorganisme
Antibiotic
Streptokokus dan
Stafilkokus
M. pnemoniae
H. influenzae
Klebsiella
P. aeruginosa
Penisilin G 50.000 unit/hari iv atau
Penisilin Prokain 600.000U/kali/hari im atau Ampisilin 100 mg/kgBB/hari
Seftriakson 75-200 mg/kgBB/hari
Eritromisin 15 mg/kgBB/hari atau derivatnya
Kloramfenikol 100mg/kgBB/hari atau sefalosforin
Catatan :
1.      Pengobatan diberikan selama 7-10 hari pada kasusu tanpa komplikasi.
2.      Pneumonia ringan tidak memerlukan perawatan dan diberikan antibiotika oral golongan derivatnya atau kotrimoksazol.
Prognosa : dengan pemberian antibiotic yang tepat, mortalitas dapat menurun.


BAB III
KONSEP  KEPERAWATAN
A.      Pengkajian
1.         Biodata
a.         Identitas Klien, meliputi :
1)        Nama/Nama panggilan
2)        Tempat tgl lahir/usia
3)        Jenis kelamin
4)        A g a m a
5)        Pendidikan
6)        Alamat
7)        Tgl/jam masuk
8)        Tgl pengkajian
9)        Diagnosa medik
10)    Rencana terapi
b.        Identitas Orang tua
1)        Ayah
2)        Ibu
2.         Riwayat Kesehatan
a.         Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya/batuk, pilek, takhipnea, demam.
b.        Anoreksia, sukar menelan, muntah.
c.         Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas, seperti ; morbili, pertusis, malnutrisi, imunosupresi.
d.        Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernafasan.
e.         Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernafasan cepat dan dangkal, gelisah, sianosis.
3.         Faktor Psikososial/Perkembangan
a.         Usia, tingkat perkembangan.
b.        Toleransi/kemampuan memahami tindakan.
c.         Koping
d.        Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua.
e.         Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya.
4.         Pengetahuan Keluarga, Psikososial
a.         Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit bronchopneumonia.
b.        Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan.
c.         Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya.
d.        Koping keluarga
e.         Tingkat kecemasan
5.         Pemeriksaan Fisik
a.         Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
b.        Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat
c.         Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi)
d.        Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perusakan mental (bingung)
e.         Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgi
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan)
f.         Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
Tanda :  sputum: merah muda, berkarat
perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
Bunyi nafas menurun
       Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku
g.        Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar
h.        Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kroni
Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari
Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah
B.       Diagnosa Keperawatan
1.         Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,
pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
2.         Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen darah.
3.         Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan
pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit kronis, malnutrisi.
4.         Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
5.         Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap.
6.         Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
7.         Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, penurunan masukan oral.
C.      Rencana Intervensi
1.         Diagnosa : Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial, peningkatan produksi sputum, ditandai dengan:
a.         Perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan.
b.        Bunyi nafas tak normal.
c.         Dispnea, sianosis
d.        Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum.
Tujuan  : jalan nafas efektif
Kriteria hasil :
1)        Batuk teratasi
2)        Nafas normal
3)        Bunyi nafas bersih
4)        Tidak terjadi Sianosis
Intervensi:
1)        Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada
Rasional : Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan.
2)        Auskultasi area paru, catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas.
Rasional:  Penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.
3)        Ajarkan teknik batuk efektif
Rasional : Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan jalan nafas paten.
4)        Penghisapan sesuai indikasi.
Rasional:  Merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran.
5)        Berikan cairan sesuai kebetuhan.
Rasional:  Cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret
6)        Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik.
Rasional:  Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret, analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan.
2.         Diagnosa : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen, ditandai dengan:
a.         Dispnea, sianosis
b.        Takikardia
c.         Gelisah/perubahan mental
d.        Hipoksia
Tujuan   : gangguan gas teratasi
Kriteria hasil :
1)        Tidak nampak sianosis
2)        Nafas normal
3)        Tidak terjadi sesak
4)        Tidak terjadi hipoksia
5)        Klien tampak tenang
Intervensi
1)        Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas
Rasional: Manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
2)        Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral.
Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga, membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik.
3)        Kaji status mental.
Rasional: gelisah mudah terangsang, bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia atau penurunan oksigen serebral.
4)        Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif.
Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal, meningkat pengeluaran secret untuk memperbaiki ventilasi tak efektif.
5)        Kolaborasi
Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master, master venturi.
Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pernapasan.
3.         Diagnosa : Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit kronis, malnutrisi.
Tujuan: Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil :
a.         Waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat
b.        Penularan penyakit ke orang lain tidak ada
Intervensi:
a.         Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi
Rasional: selama awal periode ini, potensial untuk fatal dapat terjadi.
b.        Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik
Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi.
c.         Batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain
d.        Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.
Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah
e.         Kolaborasi untuk pemberian antibiotic.
Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin, eritromisin, tetrasiklin, amikalin, sepalosporin, amantadin.
Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia.
4.         Diagnosa : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan:
a.         Dispnea
b.        Takikardia
c.         Sianosis
Tujuan :  Intoleransi aktivitas teratasi
Kriteria hasil :
1)        Nafas normal
2)        Sianosis tidak terjadi
3)        Irama jantung normal
Intervensi
1)        Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas
Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan.
2)        Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
3)        Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur.
Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi.
4)        Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan
Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
5.         Diagnosa : Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai dengan:
a.         Nyeri dada
b.        Sakit kepala
c.         Gelisah
Tujuan : Nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil :
1)        Nyeri dada teratasi
2)        Sakit kepala terkontrol
3)        Tampak tenang
Intervensi:
1)        Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk.
Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis.
2)        Pantau tanda vital
Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alas an lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat.
3)        Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang/berbincangan.
Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik.
4)        Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.
Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat keefektifan upaya batuk.
5)        Kolaborasi
Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi
Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum.
6.         Diagnosa : Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses inflamasi
Tujuan: Nutrisi  tubuh dapat teratasi
Kriteria hasil :
a.         Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan
b.        Pasien mempertahankan meningkat BB
Intervensi :
a.         Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri.
Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
b.        Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.
Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini
c.         Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang)
makanan yang menarik oleh pasien.
Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.
d.        Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.
Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi.
7.         Diagnosa : Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut, penurunan masukan oral.
Tujuan : Kekurangan volume cairan tidak terjadi
Kriteria hasil :
Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil.
Intervensi:
a.         Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia.
Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan kehilangan cairan untuk evaporasi.
b.        Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah)
Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan.
c.         Catat laporan mual/muntah
Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral
d.        Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi.
Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan penggantian.
e.         Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual
Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi.
f.         Kolaborasi
Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik.
Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan
g.        Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan
Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan
penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan
D.      Evaluasi
1.         Bersihan jalan nafas efektif ditandai dengan :
a.         Batuk teratasi
b.        Nafas normal
c.         Bunyi nafas bersih
d.        Tidak terjadi sianosis
2.         Tidak terjadi gangguan pertukaran gas ditandai dengan :
a.         Tidak nampak sianosis
b.        Nafas normal
c.         Tidak terjadi sesak
d.        Tidak terjadi hipoksia
e.         Klien tampak tenang
3.         Tidak ada resiko terhadap infeksi ditandai dengan :
a.         Waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat
b.        Penularan penyakit ke orang lain tidak ada
4.         Toleran terhadap  aktivitas sehari-hari ditandai dengan :
a.         Nafas normal
b.        Sianosis tidak terjadi
c.         Irama jantung normal
5.         Nyeri (akut) teratasi ditandai dengan :
a.         Nyeri dada teratasi
b.        Sakit kepala terkontrol
c.         Tampak tenang
6.         Nutrisi adekuat ditandai dengan :
a.         Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan.
b.        Pasien mempertahankan meningkat BB.
7.         Tidak ada tanda kurang volume cairan ditandai dengan : pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil.
DAFTAR PUSTAKA

Detik Health. 2009. Idiopatik Pneumonia Interstisial. (http://www.detikhealth.com/, diakses 14 Desember 2010).

Gabs, G. 2010. Askep Anak Pneumonia. (http://gardengab.com/, diakses tanggal 10 Desember 2010).

KTW. 2010. Suplementasi Zinc Menurunkan Kejadian Pneumonia Pada Anak-anak. (http://www.kalbe.co.id/advetorial-150-zegase.html, diakses 10 Desember 2010).

Mansjoer, Arif., Suprohaita, Wardhani, W.A., dan Setiowulan, wiwiek │Eds.│. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Auscalapius.

Prasetya, Danzka. Askep Pneumonia. (http://wildanprasetya.blog.com/,

About geovanisimatupang123

telusuri saja orang ya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: