//
you're reading...
ilmu keperawatan

NUTRISI ENTERAL

Dewasa ini perhatian terhadap terjadinya malnutrisi pada penderita yang sedang dirawat di rumah sakit telah meningkat. Risiko terjadinya malnutrisi pada pasien rawat inap (hospital malnutrition) berkisar antara 6 sampai 55%, tergantung pada bagaimana suatu negara menangani pasien-pasien yang mondok di rumah sakit.

Dewasa ini perhatian terhadap terjadinya malnutrisi pada penderita yang sedang dirawat di rumah sakit telah meningkat. Risiko terjadinya malnutrisi pada pasien rawat inap (hospital malnutrition) berkisar antara 6 sampai 55%, tergantung pada bagaimana suatu negara menangani pasien-pasien yang mondok di rumah sakit. Pemberian nutrisi pada pasien-pasien yang sedang dirawat di rumah sakit harus merupakan suatu pendekatan yang berjalan sejajar dengan penanganan masalah primernya. Masalah primer dari keadaan sakit pasien akan memburuk bila pemberian nutrisinya kurang adekuat; pasien akan sulit sembuh dan kemungkinan akan menderita berbagai komplikasi yang akan merupakan lingkaran setan yang sulit diputus. Proses tumbuh kembang anakpun menjadi terganggu. Pemberian nutrisi pada pasien dapat dilakukan dengan cara oral, enteral maupun parenteral. Pada bagian ini penulis hanya akan membahas pemberian nutrisi secara enteral.

Adaptasi pada starvasi

Pada anak yang normal, tubuh hanya mempunyai cadangan karbohidrat yang sedikit. Menginjak hari kedua dari starvasi, otot akan dipecah setiap hari, disamping itu lipolisis juga akan terus berjalan. Respon metabolik akan beraksi dengan mempertahankan keseimbangan glukosa selama tahap dini starvasi; hal ini terjadi pada 5 sampai 10 hari pertama dari puasa dan berguna untuk menghemat protein selama starvasi lanjut. Pemecahan protein otot akan semakin meningkat pada trauma mayor termasuk pembedahan. Untuk itu, sangat penting untuk memberkan dukungan nutrisi pada pasien-pasien setelah keadaan hemodinamiknya teratasi.

Pemecahan protein

Anak yang sedang sakit akan mengalami stres dengan akibat umum adalah terjadinya anoreksia, asupan makan berkurang, kadang terjadi starvasi, dan peningkatan kadar hormon antagonis insulin (glukagon, kortikosteroid, katekolamin dan growth hormone). Pemecahan protein terus berlanjut dengan akibat pengurusan otot, termasuk otot-otot pernapasan dan otot jantung dengan akibat terjadinya atelektasis, pneumonia, dekompensasio kordis dan kematian. Pemecahan protein berakibat pada penurunan daya tahan tubuh, sehingga tubuh semakin rentan terhadap sepsis.

Kebutuhan energi

Setiap anak membutuhkan energi yang akan digunakan untuk memenuhi metabolisme basal, specific dynamic action, kehilangan melalui tinja, aktifitas fisik, stres udara dingin, dan pertumbuhan. Walaupun pasien hanya berbaring, setiap pasien yang sedang sakit, sepsis, pneumonia, penyakit jantung, dsb membutuhkan energi yang lebih tinggi. Pasien yang dirawat di ruang dengan pedingin memerlukan energi yang lebih tinggi.

 

Dampak starvasi

Starvasi akan mengakibatkan terjadinya pembongkaran protein. Hal tersebut akan berakibat pada terjadinya balans nitrogen yang negatif dan penurunan berat badan. Keadaan lebih lanjut akan terjadi perubahan morfologi saluran cerna yaitu: penebalan mukosa, proliferasi sel, vili-vili menjadi meninggi. Dampak berikutnya adalah perubahan fungsí yaitu terjadinya peningkatan permeabilitas dinding usus dan penurunan absorpsi asam amino. Semua keadaan tersebut diikuti oleh perubahan enzimatik dan hormonal yang akan mengakibatkan terjadinya penurunan laktase. Dampak pada imunitas selular akan mengakibatkan terjadinya penurunan sel T, proliferasi mitogenik, dan diferensiasi. Dampak pada imunitas humoral akan mempengaruhi komplemen, opsonin, Imunoglobulin, sIga. Akibat selanjutnya dari penurunan imunitas adalah peningkatan translokasi bakteri.

Makanan enteral atau parenteraL?

Bagaimanapun juga pemberian makanan lewat enteral adalah lebih baik dibandingkan dengan pemberian makanan lewat parenteral saja. Beberapa keuntungan pemberian nutrisi enteral adalah efek trofik pada vili intestinal, menurunkan translokasi bakteri, membantu Gut-associated Lymphoid Tissue (GALT), mempromosikan sekresi sIgA dan fungsinya. Sedangkan pemberian nutrisi enteral lebih repot karena melalui jalur intra vena, lebih mahal dan lebih berisiko terhadap infeksi. Pemberian nutrisi secara kombinasi lewat enteral dan parenteral ternyata dapat memberikan hasil yang lebih baik.

 

Apa indikasi pemberian nutrisi enteral dan kapan diberikan?

Pemberian nutrisi enteral diberikan pada pasien yang sama sekali tidak bisa makan, makanan yang masuk tidak adekuat, pasien dengan sulit menelan, pasien dengan luka bakar yang luas. Pada pasien dengan keadaan trauma berat, luka bakar dan status katabolisme, maka pemberian nutrisi enteral sebaiknya sesegera mungkin dalam 24 jam. Kontra indikasi pemberian nutrisi enteral adalah keadaan dimana saluran cerna tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, kelainan anatomi saluran cerna, iskemia saluran cerna, dan peritonitis berat. Pada pasien dengan pembedahan, pemberian nutrisi enteral harus dikonfirmasikan dengan tanda munculnya flatus. Pada prinsipnya, pemberian formula enteral dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan secara bertahap sampai mencapai dosis maksimum dalam waktu seminggu. Makanan enteral yang telah disediakan sebaiknya dihabiskan dalam waktu maksimal 4 jam, waktu selebihnya akan membahayakan karena kemungkinan makanan tersebut telah terkontaminasi bakteri.

 

Route pemberian nutrisi enteral

1)Nasogastrik: pemberian melalui nasogastrik memerlukan fungsi gaster yang baik, motilitas dan pengosongan gaster yang normal.

2)Transpilorik: pemberian transpilorik efektif jika ada atoni gaster.

3)Perkutaneus: bila bantuan nutrisi secara enteral dibutuhkan lebih dari 4 bulan. Jejunostomi diberikan bila ada GER, gastroparesis, pankreatitis.

 

Halangan yang mungkin terjadi pada pemberian nutrisi enteral
Pemberian nutrisi enteral terkadang mengalami hambatan. Beberapa hambatan yang terjadi adalah sebagai berikut:
1) gagalnya pengosongan lambung,
2) aspirasi dari isi lambung,
3) diare,
4) sinusitis,
5) esofagitis,
6) erosi,
7) salah meletakkan pipa.

Dasar penentuan kebutuhan nutrisi

Kebutuhan energi dipengaruhi oleh maturitas, derajat stres, adanya sepsis atau kondisi kritis. Besarnya energi yang diperlukan dihitung berdasarkan BB ideal menurut TB. Pada bayi prematur memerlukan 150 kalori per kg BB, sedangkan bayi dengan BB normal memerlukan 100-120 kalori per kg BB. Kebutuhan energi akan meningkat ataupun menurun tergantung pada faktor aktifitas, komposisi tubuh dan stadium penyakit.
Komponen energi ekspenditur harian pada anak adalah: metabolisme basal, aktivitas fisik, energi untuk pertumbuhan, efek termik dari makan, termoregulasi, kehilangan (feses). Perkiraan perhitungan Resting Energy Expenditure (REE) adalah berdasarkan jenis kelamin, BB, TB, dan umur. Selanjutnya ditambahkan faktor koreksi (pertumbuhan, stres operasi, aktifitas dsb).

 

Beberapa cara penghitungan REE
Harris Benedict BMR
Laki-laki :6.47+13.75BB+5.0TB-6.76U
Perempuan :655.1+9.65BB+1.85TB-4.68U
WHO
REE Laki-laki 0-3 tahun : 60.9BB-54
3-10 tahun : 22.7BB+495
Perempuan 0-3 tahun : 61BB-51
3-10 tahun : 22.5BB+499
Altman & Dittmer
REE Laki-laki berumur 3-16 tahun :19.56BB+506.16
Perempuan berumur 3-16 tahun :18.67BB+578.64
Maffeis
REE Laki-laki berumur 6-10 tahun :1287+28,6BB+23.6H-69.1A
Perempuan berumur 6-10 tahun :1552+35.8BB+15.6H-36.3A
REE ditentukan sesuai umur sebagai berikut:
Umur (tahun) REE (kkal/kgBB/hari)
0 – 1   55
1 – 3   57
4 –6    48
7 –10   40
11-14 (Laki/Perempuan) 32/28
15-18 (Laki/Perempuan) 27/25
0 – 1 55
Faktor-faktor penambahan pada REE:
Faktor perkalian
Pemeliharaan 0.2
Aktifitas 0.1-0.25
Demam 0.13/per derajat > 38ºC
Trauma sederhana 0.2
Luka multipel 0.4
Terbakar 0.5-1
Sepsis 0.4
Pertumbuhan 0.5

Rumus kebutuhan energi:

Total Factor = Pemeliharaan + Activitas + Demam + Trauma sederhana + Luka Multipel + Terbakar + Pertumbuhan

Pemberian kalori yang memadai akan memberikan pertumbuhan bayi/anak yang memadai. Protein diberikan secara bertahap. Pada pemberian awal, sebaiknya diberikan protein 1,2-1,5 g/kgBB/hari. Pemberian mikronutrien terindikasi bila anak hanya mendapatkan volume makanan dalam jumlah yang sedikit.

 

Komposisi formula untuk makanan enteral

Makanan enteral sebaiknya mempunyai komposisi yang seimbang. Kalori non protein dari sumber karbohidrat berkisar 60-70%; bisa merupakan polisakarida, disakardida mapun monosakarida. Glukosa polimer merupakan karbohidrat yang lebih mudah diabsorpsi. Sedangkan komposisi kalori non protein dari sumber lemak berkisar antara 30-40%; bisa merupakan lemak bersumber dari Asam Lemak Esensial (ALE/EFA). Lemak ini mempunyai konsentrasi kalori yang tinggi tetapi sifat abrsorpsinya buruk. Lemak MCT merupakan bentuk lemak yang mudah diabsorpsi. Protein diberikan dalam bentuk polimerik (memerlukan enzim pankreas) atau peptida. Protein whey terhidrolisis merupakan bentuk protein yang lebih mudah diabsorpsi daripada bentuk asam amino bebas. Pada formula juga perlu ditambahkan serat; serat akan mengurangi risiko diare dan mengurangi risiko konstipasi, memperlambat waktu transit makanan pada saluran cerna, merupakan kontrol glikemik yang baik. Serat juga mempromosikan fermentasi di usus besar sehingga menghasilkan SCFA yang merupakan faktor trofik. SCFA menyediakan energi untuk sel epitel untuk memelihara integritas dinding usus.

 

Pemberian nutrisi enteral pada keadaan khusus

Pada anak dengan gangguan pernapasan (fungsi pulmo tidak adekuat), maka nutrisi yang diberikan sebaiknya tinggi lemak (50%) serta rendah karbohidrat. Pada penyakit hepar, sebaiknya menggunakan sumber protein tinggi BCAA, asam amino rendah aromatik. Bila ada ensefalopati hepatik, protein sebaiknya diberikan <0.5 g/kgBB/hari. Pada pasien dengan gangguan renal sebaiknya diberikan rendah protein, padat kalori, rendah PO4, K, Mg. Pemberian protein dengan menggunakan patokan GFR sebagai berikut: GFR >25: 0.6-0.7 g/kgBB/hari, bila GFR <25: 0.3 g/kgBB/hari.

 

Daftar pustaka

  1. Ekval SW. Nutritional assessment and early intervention. Dalam: Ekvall SW, penyunting. Pediatric nutrition in chronic diseases and developmental disorders. New York: Oxford University Press, 1993: 41-76.
  2. Mathur M. Enteral and parenteral nutrition in critically ill children. SUNY Downstat Medical Center 2003.

3. Javid PJ, Jaksic T. The Critical Ill Child.Walker WA, Watkins JB, Duggan C, penyunting. Nutrition In Pediatrics. Basic Science and Clinical Applications. London. BC Decker Inc, 2003; Edisi ke-3:790-8.

4. Bauer et al, Intensive care med. 2000: 26, 893-900.

5. Meilany TA, Hendarto A, Nasar SS. Dukungan nutrisi perioperatif pada anak. PIB-XIX Proyek Trigonum Plus Batu, 2005.

6. Sentongo TA. Pediatric Nutritional Support. Dalam: Buchman AL, penyunting. Practical Nutritional Support Techniques. Chicago. Slack Inc. Edisi ke-3, 2004; 71 99.
7. Weiming Z, Ning L, Jieshou. Effect of recombinant human growth hormone and enteral nutrition on short bowel syndrome. JPEN J Parenter Enteral Nutr. 2004 Nov Dec;28(6):377-81.
8. Rolandelli RH, Buckmire MA. Enteral Nutrition in the Surgical Patient. Rombeau JL, Rolandelli RH, penyunting. Clinical Nutrition. Enteral and Tube Feeding. Edisi ke-3. WB Saunders Co. 1977:268-85.

 

 

About geovanisimatupang123

telusuri saja orang ya

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: